Lama tidak bercerita. Ntah karena tiada cukup waktu atau mungkin tiada hal yg ingin diceritakan. Satu tahun belakangan ini kuhabiskan dengan aktifitas monoton dari hari ke hari bulan ke bulan yg membuatku sedikit menjadi orang yg lebih bermanfaat setidaknya untuk keluargaku. Aku menyukainya. Punya teman baru, pengetahuan baru, dan pengalaman baru. Walaupun terkadang merasa lelah dan ingin mengeluh tetapi aku tetap menyukainya. Kan ada quotes yg bilang 'Terkadang tak apa untuk merasa lelah' hehe. Untuk merasa nyaman pada sebuah kegiatan pertama kali yang harus dilakukan adalah menerimanya, menyukainya, dan menikmatinya. Ya aktifitas yg monoton itu aku sangat menikmatinya.
Kenapa cerita ini ku beri judul kehilangan. Sebab akhir tahun 2019 kemarin merupakan sebuah mimpi buruk yang sampai sekarang masih tak bisa ku cerna dengan baik. Ya, aku kehilangan seseorang. Dia pergi untuk selamanya. Terasa seperti dibangunkan dari tidur nyenyak yang sangat nikmat. Aku masih selalu termenung saat mengingat bahwa dia memang sudah tidak hidup di dunia lagi. Seseorang yang selalu menjadi pengingat untuk kembali ke jalan-Nya. Seseorang yang paling baik akhlaknya dari aku dan temanku yang lain.
Katanya 'Bunga yang paling indah lah yang akan dipilih untuk diambil'. Ya, dialah bunga yang paling indah itu. Allah lebih sayang dia. Allah mau dia segera kembali ke sisi-Nya. Aku selalu ingat perkataannya dulu saat kita membahas kewajiban yang harus dilakukan untuk tetap taat padanya. Kita sudah tahu bukan bahwa menutup aurat adalah suatu kewajiban. Tapi hatiku dulu sangat tertutup oleh kenikmatan dunia. Dia selalu mengingatkan jangan menunda kewajiban itu. 'Jika kamu berniat menutup aurat nanti saja saat sudah menikah memang kamu tahu mana yang akan lebih dulu datang? Jika ajal yang lebih dulu datang bagaimana?' Itulah perkataannya yang ku ingat sampai sekarang. Aku faham sekarang.
Saat kuingat kenangan bersamanya ada yang terasa sakit di dada ntah itu apa. Sangat banyak kenangan bersamanya. Tapi satu tahun kemarin jarakku dengannya cukup jauh sehingga bertemu pun sangat jarang. Padahal dibulan itu sebelum dia meninggal dunia, kita sudah berencana untuk bertemu. Tapi ternyata kita hanya bisa berencana, Allah lah yang menentukan. Kita tetap bertemu diwaktu yang telah direncanakan tapi dengan keaadaan yang berbeda. Dia terbaring tak bernyawa dan aku hanya bisa melihat batu nisannya. Tapi aku percaya inilah yang terbaik baginya dan inilah garis takdir-Nya. Walaupun sekarang kita sudah berbeda alam tapi aku selalu berdoa semoga kita dipertemukan lagi disana oleh-Nya.
Kehilangan sahabat sudah terasa sangat menyakitkan. Apalagi kehilangan Orang tua dan saudara. Ya Allah aku tidak akan pernah siap. Walaupun aku tahu itu pasti akan terjadi. Kita hanya tinggal menunggu waktu. Ntah aku yang akan lebih dulu dipanggil atau yang lainnya. Kita hanya perlu mempersiapkan diri. Panggil lah aku, Orang tuaku dan saudaraku dalam keaadaan beriman Ya Allah. Semoga kita berpulang dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.
Comments
Post a Comment